Kamis, 04 Mei 2017

Puisi-Puisi Kecil

 


              PENGECUT

Ia terus menyusuri lorong-lorong ratapan itu
Sebenarnya ini duka siapa ?
Sepanjang gua tertenteng luh
Sementara kaki-kakinya basah air mata
Kau sangat tabah
Pertapaanmu belum saja rampung
Padahal tangan dan kakimu telah renta
Kau lupa hakikat hidup
Hidup adalah perjamuan cinta
Suguhlah
Kau akan dijamu jua
Pengecut
Bersembunyi
              
       
   
                  AMPUN

Jari-jarinya merah
Pisaunya baru saja ia jatuhkan
Satu nyawa berhasil lepas dengan lebam diperutnya
Matanya rabun harapan
Tubuhnya menggigil ratapan
Apa yang telah saya lakukan ?
Dug.dug.dug
Seribu denyut dalam satu nafas
Andai  . . .
Siapa bilang kau hilang harapan ?
Sebertimbun dosamu tiada artinya jika telah berhadapan dengan rahim-Nya
Sedangkan, sekerikilpun dosamu tidak berampun jika berhadapan dengan bendunya.
              
 
     

                    POLOS

Kehidupannya polos karena mereka tak mengenal warna yang sebenarnya
Warna bukanlah merah hijau dan ungu
Warna adalah campuran rasa yang barangkali tumpah dalam semesta
Merendahlah agar kau mencapai puncak sepuncak-puncaknya rasa
             
 


                    MUNAFIK

Jangan salahkan jika kau disampahkan mereka
Sedangkan jiwa ragamu saja tak pernah akur
Hatimu B mulutmu mengatakan A
               
                    

               MUSTAHIL

Maka sangat sulit bagimu untuk mencinta yang jauh
Sedangkan yang dekat saja kau lupa tebar kasih
Bagaimana dengan yang gaib ?
              


                 PENDENGAR

Maka
Dialah yang paling pandai mendengar
Gerit-gerit benturan kaki-kaki semut kecil itu sama sebagaimana ledakan hiroshima
Hakikatnya tidak perlu keras-keras kau dalam meminta
Tapi
Dia juga tidak pernah sumbang
Setiap sesuatu menimbulkan bunyi dan gerit lintasan pikiranmu pun terdengar
                  


                    PANDAI

Aku sangat pandai memendam rasa
Sampai saat bersebelahan Kau tak mencium harum baumu sendiri
Aku merasakanmu dalam Aku
Yang suka tersenyum dan menyimpan dukanya dalam tawa
Rasa ini mengekal
Aku pajang dalam ruang tanpa tepi menjadi koleksi jutaan rasa-rasaku
Piguramu bunga-bunga
Aku terlalu pandai memendam rasa sehingga Kau hilang dalam tangan jahil
Seharusnya Aku jujur dengan rasa yang tak pernah berbohong ini


Safri Maulana
Pekalongan, 22 April 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SERPIHAN AYAT 2

               TESTIMONI Berkali-kali aku dibohongi para penyair yang terlalu hiperbola saat menyanjung kesempurnaan wanita. Berkali-kali...