Kamis, 04 Mei 2017

Puisi-Puisi Introspeksi

STERIL

Munajat, zikir dan wirid
Tidak terjamah jari lagi
Bibirnya beku
Sudah sterilkah dia dari dosa
Jangan tanyakan ! 

Itu preogatif tuhan

Bisa saja salah niat

Nyasar
Harus dibayarkah kiriman yang tidak sampai tangan majikannya ?

15-04

WADAK

Anumu liar, berkeliling ke pasar, orkes, facebook atau mungkin sedang asyik berdestinasi
Padahal ragamu masih dalam perpindahan rukuk, sujud, tahiyyat dalam prosesi persembahan
Bibirmu hanya melanyahkan hapalan
Apalah arti kacang tanpa isi ?

15-04

AMNESIA

Ingat, tanah.
Tanah
Apakah kau lupa dengan kesepakatan bahwa hidup tak lebih dari sehari ?
Tidak

Tapi, kenapa kau lupa memprepare perbekalanmu, tentang gelap, sempit, serangga tanah, mahsyar dan mizan
Tidak
Buktinya Kau lebih condong pada rupiah, mahkota, tahta dan lonte-lonte menggemaskan itu
Bukankah itu semu ?
Tapi asyik bukan ?
Diam !!
Kau amnesia tentang asal
Tentang tanah perbaringan yang kekal
Lebih dari seribu abad.
Tidak,
Ploook
Sadarlah !!
Kau amnesia pada keabadian

15-04

MUNAJAT

Adakah yang sesederhana perjamuan tengah malam ?
Hanya kau berdua
Atau dengan sepi
Hening adalah yoga alami
Kadang, sendiri itu penting
Kau akan mengerti hakikat
Siapa dirimu dan siapa Dia
Kebijaksanaan akan merasukimu
Adakah yang sesederhana perjamuan tengah malam ?
Tanpa secawan anggur pun
Tapi berjuta keabadian

16-04

LALAI

Ia menjadi gila semenjak sholatnya dimulai
Bagaimana tidak ?
Dia berbicara tanpa paham apa yang sebenarnya ia bicarakan.
Seperti beo, hanya hafal kata-kata
Sampai kapan kau akan mengigau dalam sholat-sholatmu ?

15-04

SUDUT PANDANG

Setiap orang beda kepala, tiap kepala beda otak dan tiap otak beda pikiran.
Maka jangan kau paksa untuk seirama
Bukankah musik itu enak karena beda nada, tidak sama itu rahmat bukan ?.
Sudut pandang adalah cokol dari perselisihan

15-04

Puisi-Puisi Kecil

 


              PENGECUT

Ia terus menyusuri lorong-lorong ratapan itu
Sebenarnya ini duka siapa ?
Sepanjang gua tertenteng luh
Sementara kaki-kakinya basah air mata
Kau sangat tabah
Pertapaanmu belum saja rampung
Padahal tangan dan kakimu telah renta
Kau lupa hakikat hidup
Hidup adalah perjamuan cinta
Suguhlah
Kau akan dijamu jua
Pengecut
Bersembunyi
              
       
   
                  AMPUN

Jari-jarinya merah
Pisaunya baru saja ia jatuhkan
Satu nyawa berhasil lepas dengan lebam diperutnya
Matanya rabun harapan
Tubuhnya menggigil ratapan
Apa yang telah saya lakukan ?
Dug.dug.dug
Seribu denyut dalam satu nafas
Andai  . . .
Siapa bilang kau hilang harapan ?
Sebertimbun dosamu tiada artinya jika telah berhadapan dengan rahim-Nya
Sedangkan, sekerikilpun dosamu tidak berampun jika berhadapan dengan bendunya.
              
 
     

                    POLOS

Kehidupannya polos karena mereka tak mengenal warna yang sebenarnya
Warna bukanlah merah hijau dan ungu
Warna adalah campuran rasa yang barangkali tumpah dalam semesta
Merendahlah agar kau mencapai puncak sepuncak-puncaknya rasa
             
 


                    MUNAFIK

Jangan salahkan jika kau disampahkan mereka
Sedangkan jiwa ragamu saja tak pernah akur
Hatimu B mulutmu mengatakan A
               
                    

               MUSTAHIL

Maka sangat sulit bagimu untuk mencinta yang jauh
Sedangkan yang dekat saja kau lupa tebar kasih
Bagaimana dengan yang gaib ?
              


                 PENDENGAR

Maka
Dialah yang paling pandai mendengar
Gerit-gerit benturan kaki-kaki semut kecil itu sama sebagaimana ledakan hiroshima
Hakikatnya tidak perlu keras-keras kau dalam meminta
Tapi
Dia juga tidak pernah sumbang
Setiap sesuatu menimbulkan bunyi dan gerit lintasan pikiranmu pun terdengar
                  


                    PANDAI

Aku sangat pandai memendam rasa
Sampai saat bersebelahan Kau tak mencium harum baumu sendiri
Aku merasakanmu dalam Aku
Yang suka tersenyum dan menyimpan dukanya dalam tawa
Rasa ini mengekal
Aku pajang dalam ruang tanpa tepi menjadi koleksi jutaan rasa-rasaku
Piguramu bunga-bunga
Aku terlalu pandai memendam rasa sehingga Kau hilang dalam tangan jahil
Seharusnya Aku jujur dengan rasa yang tak pernah berbohong ini


Safri Maulana
Pekalongan, 22 April 2017

SERPIHAN AYAT 2

               TESTIMONI Berkali-kali aku dibohongi para penyair yang terlalu hiperbola saat menyanjung kesempurnaan wanita. Berkali-kali...