TESTIMONI
Berkali-kali aku dibohongi para penyair yang terlalu hiperbola saat menyanjung kesempurnaan wanita.
Berkali-kali aku berjumpa wanita, tiada satupun mereka yang nafi dari kekurangan yang harus seorang laki-laki benahi.
LAILA AL QODR
Udzurnya bulan, itu sama sekali tidak mengoyah kemauan Qais berjumpa denganmu, laila
Dengan perbekalan apa adanya, malam ini jauh aku akan menyusuri tarian kesunyian
Malam ini kita akan berpesta, nyalakan lilin-lilin sayang, tabur kembang
Aku tidak perduli, apakah ini tanggal ganjil, genap atau lainnya
Karena cinta tak terikat oleh apapun.
Aku lihat semua cinta didunia ini telah cacat, ada udang dibalik simalakama yang telah ia tanam.
Bukankah cinta saling meredai ?
Jika cinta saling memiliki, kita akan saling menuntut.
Laila, pejamkan matamu agar aku tidak ragu mengecup kening malam seribu bulan ini. Sekejap saja
TOLOL
Aku dengar, disana, orang-orang kehabisan air mata
Tiada lagi kata luka, karena kematian ialah hal yang mereka rindukan
Sedangkan, aku disini, duduk, diam, tertawa; ditanah mata air.
Mengumpat, takut air mata.
Harus lari kemana jika kesunyian pun merekam jejakku ?
BERTEDUH
Aku berteduh, jauh dirindang matamu yang diam-diam memasung jiwaku dengan kelembutannya.
Menerka-nerka, adakah sebuah rahasia yang kau umpat di sela-sela putih dan hitammu
Karena seakan sepasang matamu itu berbicara tentang keabadian yang abadi,
Dan, Aku ingin sekali berteduh pada keabadiannya.
UNTUK RAZAN
Aku mendengar di tanah sana, bidadari telah mati
Jantungnya tertembak,
Tidak, bagaimanapun dia tidak mati
Itulah awal kehidupannya
Dan kematiannya akan menghidupkan beribu jiwa yang mati
Aku yakin itu
Terimakasih
Razan
MIMIK
Memang kau diam, tapi sangat jelas kalimat-kalimat yang kau ucapkan dari raut muka, sepasang mata, bibir dan lengkungan dahi serta keningmu.
Aku tidak punya kata-kata saat itu.