ALUR
Pagi kembali memanggil sepasang roda memenuhi jalan-jalan, halte-halte, dan sepasang sandal menyusur trotoar
Motor hilir bergulir saing-menyaingi waktu di tepian jalan yang berlawanan arah juga tujuan.
Dengan berbagai aroma parfum, kemeja atau lainnya, orang-orang kembali menyambung cerita hidupnya yang semalam patah; sementara sisa lusa masih hangat dalam aliran darah
Kehidupan ialah sebuah cerpen yang harus kita rangkai dengan sedemikian etis, dengan berbagi arti
Kebodohan, jika pengembaraanmu sekedar menumpuk merah, biru, hijau atau sekedar koin-koin logam.
Aku sebagian dari kebodohan itu
Pkl080618
LAPUK
Musim menyapa, doa dan fakta bertengkar, bunga jatuh dan lapuk
Aku iba denganmu, yang mati sia-sia,
Yang hidup dengan kematian dan mati bermuka masai, penuh tanda tanya
Aku iba dengan; aku
Dan mereka
Pkl060618
TIMPANG
Disini
Di kanan-kiriku ketidakadilan sama besar, bahkan disini; aku sendiri
Di bedakan adalah hal yang menjengkelkan; tapi kita tidak pernah berfikir berapa banyak orang yang telah kita pandang bulu
Entah karena sikap atau rupa cukup menampar mata
Disana, ketidakadilan sama lebar, disofa-sofa konglomerat sampai kardus-kardus orang mlarat
Disitu, semua
Ketidakadilan telanjang, menari-nari
Aku marah padamu; Aku
Pkl060618
HITAM
Jalan-jalan kosong, lampu-lampu hilang dan kesunyian beramai-ramai membekap ramai
Kini malam benar-benar menjadi malam, yang telanjang,
Maka disana, bulan dan bebintang diam-diam mengintip, berdansa tanpa suatu tarian
Semua manusia terlelap, mati
Jiwa-jiwa berlarian menanggalkan jasad, menari-nari dalam ketiadaan yang ada, dan yang tiada
Kehidupan ini tidak lain dari perkawinan siang dan malam
Maka lahirlah senja kemerah-merahan
Musim bergantian mengubah padi menjadi tebu, mahoni dan tanah kering. Dan bergilirlah hidup dan mati.
Semua tidak lepas dari kesepakatan yang jauh hari telah menghitam
Pkl080618
Tidak ada komentar:
Posting Komentar